Top News

Debut pertama Kelas 3A BIKBP menulis berita di koran online

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Task 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Task 3. Tampilkan semua postingan

Perjuangan Rara untuk Mempertahankan Musik Karawitan


Bagi masyarakat pulau Jawa, seni musik karawitan pastinya sudah tidak asing lagi. Seni ini tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur. Biasanya, karawitan ini sering disebut dengan musik gamelan. Kata karawitan sendiri berasal dari bahasa Jawa "rawit" yang memiliki arti halus dan lembut. Maka dari itu pembawaan gamelan dalam karawitan sangat halus dan lembut.



Alat musik ini sangat populer sejak zaman Kalingga, dan masih terus eksis hingga saat ini. Sayangnya, tidak semua generasi muda mengetahui alat musik karawitan, terlebih di tengah gempuran modernisasi di Indonesia. Tetapi hal itu tidak membuat semangat Rara luntur untuk melestarikan seni bermusik ini. Perempuan yang masih aktif menabuh Saron itu dengan semangatnya tetap mengikuti perlombaan dan kegiatan yang berkaitan dengan karawitan. Dengan bangganya, ia memamerkan kemampuan menabuhnya di setiap pertunjukan yang dihadirinya. 


Entah motivasi apa yang membuatnya tetap ingin melestarikan seni tersebut, namun satu hal yang paling ia ingat adalah raut bahagia ibunya ketika menabuh Peking, salah satu alat musik karawitan. Ternyata sedari belia, ia sudah dikenalkan dengan alat musik tersebut dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mempelajarinya. 


Dengan bimbingan dari kedua orang tuanya, di umurnya yang ke-10 tahun ia sudah mampu menguasai alat musik Saron dan Peking. Mungkin banyak orang yang bertanya untuk apa Rara tetap mendalami seni musik karawitan, padahal banyak alat musik modern. “Kalau semua orang hanya mau belajar alat musik modern, terus siapa yang akan memperkenalkan alat musik ini ke anak cucu kita? Nanti nggak ada yang melestarikan, terus di klaim negara tetangga malah marah-marah”, ujarnya dengan menggebu-gebu. 


Dulunya, Rara tergabung dalam suatu kelompok seni karawitan yang berjumlah kurang lebih 14 orang. Komunitas tersebut lebih dikenal sebagai "Luminthu Jaya". Kata Luminthu sendiri berarti rezeki yang terus mengalir. Mungkin pendiri dari komunitas tersebut ingin anggotanya mendapatkan rezeki dan pengalaman yang banyak dari aktivitas gamelannya. 


Seingatnya, semasa SMP dulu ia sangat aktif dan mulai bergabung dengan komunitas tersebut. Latihan diadakan dua kali dalam seminggu dengan durasi satu jam. Jadi, setiap pulang sekolah ia sempatkan untuk berkumpul bersama komunitasnya. 



   

Namun, ia memutuskan untuk keluar setelah 6 tahun mengabdi pada komunitasnya. Alasan utama vakumnya adalah karena kesibukan kuliah. 


"Tapi kalau ada waktu luang, biasanya masih sering main gamelan sama muridnya ibu", tambahnya. Keikutsertaannya dalam perkumpulan tersebut membuatnya memiliki banyak teman dan koneksi yang luas.


Menurut pengakuannya, uang yang dihasilkan dari setiap penampilannya tidak seberapa besar. "Biasanya tiap tampil dibayar 100 ribu per-orang. Nggak banyak sih, tapi paling penting ya dapet pengalaman dan euphoria juga", ungkap Rara. 


"Dulunya ibu dibayar 75 ribu setiap pentas, kalau di tahun 2001 ya uang segitu sudah lumayan besar", ucap Bu Herlin, ibu Rara yang pernah menjadi sinden dan pemegang Peking di komunitasnya. 


Minat anak muda untuk mempelajari alat musik ini sangatlah rendah. Selain itu, penampilan musik karawitan jarang ditemui lagi sehingga kesempatan anak muda untuk mengeksplorasi seni tersebut sangat minim.


Menurut pendapat Rara, untuk melestarikan seni musik ini tidaklah mudah. Dibutuhkan kesadaran dan kemauan tiap individu untuk mempelajari dan tertarik dengan karawitan.


"Kan sekarang lagi marak tiktok tuh, mungkin aja tiktok bisa jadi platform yang ampuh buat mempromosikan alat musik ini. Nanti bikin sesuatu yang unik, tapi ada unsur gamelan di dalamnya", ujar Rara ketika ditanya mengenai cara yang tepat untuk mengenalkan alat musik ini kepada orang awam atau generasi muda. 


Mungkin perjuangan Rara untuk tetap melestarikan alat musik Karawitan tidak terlalu besar. Namun, ia tetap berharap jika suatu saat Karawitan dapat kembali populer di Indonesia. Lebih lagi jika bisa mendapat kesempatan untuk tampil di luar negeri dan dikenal oleh negara lain bahwa Karawitan merupakan alat musik asli dari Indonesia. 


Jauhkan Anak dari Gadget, Gaya Parenting Tasya Kamila Tuai Pujian

 

    Perjuangan menjadi orang tua, terutama seorang ibu tidak berhenti setelah melahirkan. Justru perjalanannya baru saja dimulai. Di era digital sekarang ini, para ibu dan calon ibu dapat dengan mudah mendapatkan informasi dalam setiap tahapan atau fase yang dijalani. Itu pula yang dialami Tasya Kamila, penyanyi cilik di era 90-an.

    Tasya Kamila memang sudah bukan artis lagi. Namun, dia masih mendapat perhatian besar dari masyarakat. Terutama setelah penyanyi yang memopulerkan lagu Anak Gembala itu punya buah hati. Dari pernikahannya dengan Randi Bachtiar, Tasya dikaruniai seorang putra, Arrasya Wardhana Bachtiar, yang lahir tiga tahun silam.

    Perempuan 29 tahun itu begitu bersemangat dalam belajar dan meluangkan waktu untuk sang buah hati. Juga rajin mencari informasi dari berbagai sumber seperti internet dan dokter anak untuk mempelajari tahapan tumbuh dan kembang anak sesuai usianya. 

   Menurut Tasya, pola didik sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak di kemudian hari. Melalui akun Instagramnya @tasyakamila, dia sering membagikan tips tentang pola pengasuhan anak. Perempuan pemilik zodiak Scorpio itu pun tak segan berbagi informasi bagaimana cara merawat serta mengasuh Arrasya. 

    Salah satunya dalam hal pemenuhan gizi dan nutrisi yang cukup untuk anak. Sejak mendapatkan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), Arrasya selalu nampak lahap makan. Hal ini dikarenakan Tasya selalu melakukan aturan makan untuk Arrasya. Misalnya makan harus duduk. 

    Selain itu, Tasya juga benar-benar memperhatikan asupan gizi sang anak. Menurutnya, nutrisi yang cukup akan sangat membantu kemampuan berpikir sang anak sekaligus menjaga imunitasnya. Tentu saja, makanan tersebut harus makanan yang sehat dengan gizi seimbang.

    Tasya selalu memberikan kesempatan kepada anaknya untuk belajar sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk melatih sang anak agar bisa menggali dan menemukan minat, bakat, dan potensinya sendiri untuk perkembangan kognitif Arrasya. "Saya mempelajari hal-hal baru dalam mendidik Arrasya supaya bisa tumbuh dan berkembang secara optimal," kata perempuan kelahiran 22 November 1992 itu.

   Tasya pun sering mengajak sang anak untuk melakukan hal-hal baru. Berenang misalnya. Hal ini dimaksudkan agar sang anak memiliki banyak kenangan dan pengalaman di masa kecilnya. Selain itu, juga bisa menumbuhkan serta memupuk rasa percaya diri pada anak untuk melakukan suatu hal baru.

    Walaupun terdengar sepele, bermain bersama anak dapat menumbuhkan bonding atau ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Selain itu, interaksi yang terjadi ketika bermain dengan anak akan memperkaya kosa kata sang anak. Tasya Kamila juga selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan anak di tengah-tengah kesibukannya. Dia juga membatasi screen time atau penggunaan gadget pada anaknya.

    Dalam masa-masa golden age anak, para orang tua diharapkan mampu untuk melatih semua aspek dalam diri sang anak, seperti melatih dan menstimulasi motorik. Tasya sering kali mengajak sang anak bermain basket. Hal ini bertujuan untuk mengasah motorik kasar sang anak.

   Fakta menariknya, Arrasya berhasil mencuri perhatian publik dengan hobinya yang suka mengoleksi kipas angin. Dia yang baru berusia 3 tahun bisa mengetahui jenis-jenis kipas dan cara menyalakannya. Tidak hanya kegemarannya terhadap kipas angin, kebiasaan Arrasya yang jauh dari gadget membuat banyak orang menjadi kagum dengan pola asuh Tasya. 

     Ilmu parenting atau pola dalam mengasuh anak memang sangat penting untuk dipelajari para orang tua. Baik sebelum atau setelah menjadi orang tua. Hal ini berguna untuk menunjang tumbuh kembang serta pembentukan karakter pada diri sang anak.