Top News

Debut pertama Kelas 3A BIKBP menulis berita di koran online

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mengusir Sial dengan Ruwatan


Generasi sekarang mungkin sudah jarang yang mengenal ruwatan. Itu adalah ritual Jawa untuk menolak bala atau sial. Di Malang, ada seorang dalang yang juga dikenal sebagai dalang ruwatan. Namanya Joko Setiono atau biasa dikenal sebagai Ki Jecko Sentiong. Julukan itu ia dapatkan lantaran kata teman-temannya, wajahnya mirip bintang film Jacky Chan.

Ia dulunya seorang MC Jawa yang biasa diundang untuk memandu acara pernikahan. Sejak 1998 pria kelahiran 26 September 1959 itu menjadi MC. Buat hobi, bukan menjadi pekerjaan utamanya. "Sehari-hari saya dosen Teknik Sipil dan mengajar mata kuliah () di Politeknik Negeri Malang," ujar Joko Setiono. Baru pada 2014, Ki Jecko menjadi dalang ruwat. Kemampuan sebenarnya sudah ia pelajari sejak kecil secara otodidak. Lalu ia perdalam dengan berkonsultasi dengan para ahli seni budaya pewayangan.

Menurut Ki Jecko, ruwatan sendiri pergelaran seni wayang kulit yang menceritakan kehidupan Batarakala yang mengganggu manusia. Menurut cerita pewayangan pada jaman dahulu, ketika Batarakala yang ingin mengganggu kehidupan manusia dan diketahui oleh seorang Ki Ganda Buana akhirnya beliau memisahkan antara yang baik dan yang batil maka hilanglah sukerto atau keraguan pada diri manusia akibat gangguan dari Batarakala, iblis, dan para pasukannya.

Kegiatan ruwatan, kata Ki Jecko, terinspirasi oleh cerita kuno yang dikembangkan menjadi pergelaran. Sekaligus sebagai hiburan, tontonan, dan tatanan. "Kegiatan ini biasa dilakukan pada bulan Muharam atau bulan Suro. Dilakukan pada pagi hari atau siang hari," kata bapak empat anak itu.



Mungkin secara umum ruwatan dan ruqyah memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengusir serba kesialan atau tolak bala yang terutama berkaitan dengan gangguan dari makhluk gaib, sihir, atau lainnya. Namun, dua kegiatan tersebut memiliki perbedaan, seperti jika ruqyah tidak perlu membawa sajen atau sesajen, jika ruqyah memerlukan ustad dan beberapa orang pendamping, maka ruwatan juga memerlukan pemimpin atau biasa disebut dengan dalang ruwat dan juga memerlukan banyak orang pendamping tak hanya itu, pasti memerlukan juga sinden yang diiringi oleh gamelan. Di era modern sekarang ini banyak orang yang tidak mengetahui apa itu ruwatan, “Ditengah gempurannya budaya barat maka dari itu saya tetap melakukan kegiatan tersebut karena saya sendiri memiliki motto untuk melestarikan tradisi Jawa, dan kegiatan tersebut digunakan sebagai sarana media pembangun karakter generasi bangsa,” kata Dosen pengampu mata kuliah kesehatan dan keselamatan kerja.

Sebelum melakukan prosesi ruwatan, ada beberapa persyaratan yang harus lebih dulu dipenuhi, yaitu; Nasi kuning yang memiliki makna mendapatkan rezeki yang berlebihan, Tumpeng yang memiliki makna sebagai bentuk mensyukuri sebuah kenikmatan yang sudah diberikan, nasi golong yang bermakna mendapatkan rezeki yang bergantian, nasi kebuli yang bermakna apabila memiliki keinginan atau hajat agar dapat segera dikabulkan, jenang abang yang terbuat dari ketan dan dikasih gula dan kelapa, bubur sengkolo bermakna untuk membuang atau menjauhkan dari segala kesialan, jajanan pasar yang bermakna untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan jauh dari segala permasalahan dan yang terakhir adalah rujak legi sebagai lambang penafsiran.

Setelah menyiapkan persyaratan tersebut maka selanjutnya adalah prosesi pertama yaitu, siraman yang mengandung nilai pembersih badan manusia yang menggunakan air kembang setaman; kembang kenanga, kembang melati, dan kembang mawar, kedua sesaji dan selamatan agar orang yang diruwat selalu dalam keadaan selamat, ketiga penyerahan sarana, yaitu memberikan perlindungan terhadap orang yang tergolong sukerta atau orang - orang yang sial atau perlu diruwat. keempat yaitu upacara memotong rambut yang bermakna bahwa segala kotor harus dipotong atau dibuang dan yang terakhir adalah tirakatan atau ungkapan rasa syukur dan berterima kasih terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungannya. Sesajen yang digunakan dalam kegiatan ruwatan tidak hanya berupa makanan, melainkan ada juga benda - benda lainnya, seperti bunga, padi, kain dan masih banyak lagi. Persembahan sesajen merupakan sarana komunikasi atau interaksi dengan makhluk tak kasat mata. Selain untuk sarana komunikasi tak lupa juga menyajikan sesajen khusus untuk memuja Batara Kala.

Kegiatan ruawatan ini memiliki pro dan kontra dalam masyarakat, dalam ajaran agama islam tidak mengenal tradisi ruwatan untuk menolak bala, yang diperbolehkan dalam ajaran agama islam adalah tasyakuran yang biasa dilakukan dalam adat masyarakat ketika mendapatkan rezeki dengan menggelar tasyakuran. Namun, ada beberapa masyarakat yang mempercayai kegiatan ruwatan ini karena berpengaruh pada keselamatan keluarganya. “Walaupun banyak pro dan kontranya, kegiatan ini semestinya tetap dilakukan untuk melestarikan budaya-budaya Jawa yang kini mulai tergeserkan oleh budaya barat,” Tutur pria usia 63 tahun.






Perjuangan Rara untuk Mempertahankan Musik Karawitan


Bagi masyarakat pulau Jawa, seni musik karawitan pastinya sudah tidak asing lagi. Seni ini tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur. Biasanya, karawitan ini sering disebut dengan musik gamelan. Kata karawitan sendiri berasal dari bahasa Jawa "rawit" yang memiliki arti halus dan lembut. Maka dari itu pembawaan gamelan dalam karawitan sangat halus dan lembut.



Alat musik ini sangat populer sejak zaman Kalingga, dan masih terus eksis hingga saat ini. Sayangnya, tidak semua generasi muda mengetahui alat musik karawitan, terlebih di tengah gempuran modernisasi di Indonesia. Tetapi hal itu tidak membuat semangat Rara luntur untuk melestarikan seni bermusik ini. Perempuan yang masih aktif menabuh Saron itu dengan semangatnya tetap mengikuti perlombaan dan kegiatan yang berkaitan dengan karawitan. Dengan bangganya, ia memamerkan kemampuan menabuhnya di setiap pertunjukan yang dihadirinya. 


Entah motivasi apa yang membuatnya tetap ingin melestarikan seni tersebut, namun satu hal yang paling ia ingat adalah raut bahagia ibunya ketika menabuh Peking, salah satu alat musik karawitan. Ternyata sedari belia, ia sudah dikenalkan dengan alat musik tersebut dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mempelajarinya. 


Dengan bimbingan dari kedua orang tuanya, di umurnya yang ke-10 tahun ia sudah mampu menguasai alat musik Saron dan Peking. Mungkin banyak orang yang bertanya untuk apa Rara tetap mendalami seni musik karawitan, padahal banyak alat musik modern. “Kalau semua orang hanya mau belajar alat musik modern, terus siapa yang akan memperkenalkan alat musik ini ke anak cucu kita? Nanti nggak ada yang melestarikan, terus di klaim negara tetangga malah marah-marah”, ujarnya dengan menggebu-gebu. 


Dulunya, Rara tergabung dalam suatu kelompok seni karawitan yang berjumlah kurang lebih 14 orang. Komunitas tersebut lebih dikenal sebagai "Luminthu Jaya". Kata Luminthu sendiri berarti rezeki yang terus mengalir. Mungkin pendiri dari komunitas tersebut ingin anggotanya mendapatkan rezeki dan pengalaman yang banyak dari aktivitas gamelannya. 


Seingatnya, semasa SMP dulu ia sangat aktif dan mulai bergabung dengan komunitas tersebut. Latihan diadakan dua kali dalam seminggu dengan durasi satu jam. Jadi, setiap pulang sekolah ia sempatkan untuk berkumpul bersama komunitasnya. 



   

Namun, ia memutuskan untuk keluar setelah 6 tahun mengabdi pada komunitasnya. Alasan utama vakumnya adalah karena kesibukan kuliah. 


"Tapi kalau ada waktu luang, biasanya masih sering main gamelan sama muridnya ibu", tambahnya. Keikutsertaannya dalam perkumpulan tersebut membuatnya memiliki banyak teman dan koneksi yang luas.


Menurut pengakuannya, uang yang dihasilkan dari setiap penampilannya tidak seberapa besar. "Biasanya tiap tampil dibayar 100 ribu per-orang. Nggak banyak sih, tapi paling penting ya dapet pengalaman dan euphoria juga", ungkap Rara. 


"Dulunya ibu dibayar 75 ribu setiap pentas, kalau di tahun 2001 ya uang segitu sudah lumayan besar", ucap Bu Herlin, ibu Rara yang pernah menjadi sinden dan pemegang Peking di komunitasnya. 


Minat anak muda untuk mempelajari alat musik ini sangatlah rendah. Selain itu, penampilan musik karawitan jarang ditemui lagi sehingga kesempatan anak muda untuk mengeksplorasi seni tersebut sangat minim.


Menurut pendapat Rara, untuk melestarikan seni musik ini tidaklah mudah. Dibutuhkan kesadaran dan kemauan tiap individu untuk mempelajari dan tertarik dengan karawitan.


"Kan sekarang lagi marak tiktok tuh, mungkin aja tiktok bisa jadi platform yang ampuh buat mempromosikan alat musik ini. Nanti bikin sesuatu yang unik, tapi ada unsur gamelan di dalamnya", ujar Rara ketika ditanya mengenai cara yang tepat untuk mengenalkan alat musik ini kepada orang awam atau generasi muda. 


Mungkin perjuangan Rara untuk tetap melestarikan alat musik Karawitan tidak terlalu besar. Namun, ia tetap berharap jika suatu saat Karawitan dapat kembali populer di Indonesia. Lebih lagi jika bisa mendapat kesempatan untuk tampil di luar negeri dan dikenal oleh negara lain bahwa Karawitan merupakan alat musik asli dari Indonesia. 


Kampung Edukasi Rejoso, Batu, Bawa Hoki Bagi UMKM





Hasil kerajinan kayu Bpk. Sugianto 

Kalau Anda punya cobek, ulekan, atau alu dari kayu, jangan-jangan itu adalah produk dari Kampung Rejoso, Batu. Kampung itu memang sudah lama dikenal sebagai sentra UMKM, khususnya kerajinan kayu.

Bahkan, usaha kerajinan kayu di Rejoso sudah ada sejak 1960-an. Kemudian diwariskan turun menurun hingga kini. Kerajinan dari Rejoso dijual sampai ke berbagai daerah di Indonesia. 

Seiring dengan perkembangan Kota Batu sebagai kota wisata, muncul peluang untuk mengangkat produk penduduk Rejoso tersebut. Kerajinan kayu tersebut bisa menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Batu. 

Pemkot Batu kemudian menjadikan Rejoso sebagai Kampung Edukasi. Sekitar tahun 2018 rencana pembukaan kampung edukasi tersebut diajukan, dan dapat direalisasikan sekitar tahun 2019. Wisatawan yang datang tidak sekadar bisa belanja, tapi juga bisa melihat langsung proses pembuatan kerajinan dari awal hingga siap dipasarkan. "Saya juga punya dua stand, di Jatim Park I dan di Jalan Ir Soekarno, Beji," ujar Sugianto, salah seorang pengusaha UMKM di Rejoso.


Di Rejoso, 75 persen warganya adalah pelaku usaha. Mereka menghasilkan aneka produk-produk unggulan, seperti alat perlengkapan rumah tangga, alat peraga pendidikan, serta beraneka olahan hasil pertanian. Makanya, kampung edukasi cukup tepat didirikan di sana.

Kehadiran kampung edukasi di Rejoso mendapat perhatian dari wisatawan. Jaraknya sekitar tiga kilometer ke arah timur Batu Night Spectacular (BNS). Kira-kira hanya 5 menit naik mobil. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk ke kampung itu. Di sana, pengunjung bisa masuk ke kawasan home industri kerajinan kayu, kerajinan tas, kerajinan cobek, atau industri makanan dan minuman. Mereka juga dapat melihat langsung proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan siap jual, hingga bagaimana cara pemasarannya. 

Menurut Sugianto, banyak peningkatan yang dirasakan perajin sejak Rejoso menjadi kampung edukasi. Keberhasilannya membuka 2 stan di Jatim Park 1 dan Beji juga karena adanya kampung edukasi tersebut. Hal ini tentunya juga berdampak pada peningkatan pendapatan. Sebelumnya, pendapatan Sugianto tidak menentu. Kini ia bisa mendapatkan keuntungan bersih lebih dari Rp 5 juta per bulan. “Selain bisa menambah penghasilan, ya bisa bantu kasih pekerjaan buat anak muda di sini yang putus sekolah. Mereka bantu-bantu bikin cobek dan antar pesanan,” ujar pria yang menekuni usaha kerajinan kayu sejak 2007 itu.

Cobek kayu 

Dampak baik juga turut dirasakan oleh Ibu Siti, salah satu perajin tas plastik,yang menurutnya penghasilan yang didapatnya jauh lebih banyak dibanding sebelum kampung Rejoso menjadi wisata edukasi. “Sebelum jadi wisata pendapatan saya tidak terlalu banyak, karena perajin tas di desa Junrejo sendiri kan sudah banyak, sedangkan peminatnya berkurang” unggah Wanita akhir 40 tahun-an tersebut. (Athmagita)



 

PK Entertainment, menghadapi pandemik Covid-19


     Saat ini adalah masa yang sulit bagi promotor konser. Setelah paceklik selama dua tahun karena pandemic Covid-19, belakangan izin menggelar konser juga sulit didapat. Imbas dari kerusuhan di Stadion Kanjuruhan dan pesta Halloween di Itaewon, Korea Selatan. Pk Entertainment, salah satu promotor tur yang bisa melalui masa sulit tersebut.

     Seluruh kru PK Entertainment deg-degan saat mendengar konser NCT, boy band asal Korea, dihentikan polisi. Dengan banyaknya korban pada saat itu membuat kami ragu. Apalagi PK Entertainment bakal menggelar konser Lany, penyanyi dari Los Angeles, tidak lama lagi tepatnya 9 November 2022. Di Gedung yang sama, yakni ICE BSD. Dengan tiket yang terjual sudah hampir sold out pada saat itu.
 
     “Secara audiensi kami cukup yakin untuk melaksanakan konser, apalagi Lany memiliki peminat yang cukup besar di Indonesia” kata salah satu panitia konser Lany. PK Entertainment bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk dapat lebih menjaga keamanan disekitar venue selama konser berlangsung. “Bagi kami keselamatan penonton itu juga penting sehingga kami berusaha untuk memastikan semuanya aman” tambahan dari panitia konser Lany.

     Segala kerja keras promotor dan panitia pun dapat terbayar. Dimana konser ini dapat berjalan dengan
lancar, dengan ticket sold out dan jumlah penonton mencapai 10.000. “Kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih untuk para penonton, yang mau mengikuti arahan dan tetap menjaga protocol sehingga membuat mala mini menjadi nyaman dan aman untuk semuanya” kata salah satu perwakilan penonton.  



     Saat ini adalah masa yang sulit bagi promotor konser. Setelah paceklik selama dua tahun karena pandemic Covid-19, belakangan izin menggelar konser juga sulit didapat. Imbas dari kerusuhan di Stadion Kanjuruhan dan pesta Halloween di Itaewon, Korea Selatan. Pk Entertainment, salah satu promotor tur yang bisa melalui masa sulit tersebut.

     Seluruh kru PK Entertainment deg-degan saat mendengar konser NCT, boy band asal Korea, dihentikan polisi. Dengan banyaknya korban pada saat itu membuat kami ragu. Apalagi PK Entertainment bakal menggelar konser Lany, penyanyi dari Los Angeles, tidak lama lagi tepatnya 9 November 2022. Di Gedung yang sama, yakni ICE BSD. Dengan tiket yang terjual sudah hampir sold out pada saat itu.

     “Secara audiensi kami cukup yakin untuk melaksanakan konser, apalagi Lany memiliki peminat yang cukup besar di Indonesia” kata salah satu panitia konser Lany. PK Entertainment bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk dapat lebih menjaga keamanan disekitar venue selama konser berlangsung. “Bagi kami keselamatan penonton itu juga penting sehingga kami berusaha untuk memastikan semuanya aman” tambahan dari panitia konser Lany.

     Segala kerja keras promotor dan panitia pun dapat terbayar. Dimana konser ini dapat berjalan dengan lancar, dengan ticket sold out dan jumlah penonton mencapai 10.000. “Kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih untuk para penonton, yang mau mengikuti arahan dan tetap menjaga protocol sehingga membuat mala mini menjadi nyaman dan aman untuk semuanya” kata salah satu perwakilan penonton.  







Jauhkan Anak dari Gadget, Gaya Parenting Tasya Kamila Tuai Pujian

 

    Perjuangan menjadi orang tua, terutama seorang ibu tidak berhenti setelah melahirkan. Justru perjalanannya baru saja dimulai. Di era digital sekarang ini, para ibu dan calon ibu dapat dengan mudah mendapatkan informasi dalam setiap tahapan atau fase yang dijalani. Itu pula yang dialami Tasya Kamila, penyanyi cilik di era 90-an.

    Tasya Kamila memang sudah bukan artis lagi. Namun, dia masih mendapat perhatian besar dari masyarakat. Terutama setelah penyanyi yang memopulerkan lagu Anak Gembala itu punya buah hati. Dari pernikahannya dengan Randi Bachtiar, Tasya dikaruniai seorang putra, Arrasya Wardhana Bachtiar, yang lahir tiga tahun silam.

    Perempuan 29 tahun itu begitu bersemangat dalam belajar dan meluangkan waktu untuk sang buah hati. Juga rajin mencari informasi dari berbagai sumber seperti internet dan dokter anak untuk mempelajari tahapan tumbuh dan kembang anak sesuai usianya. 

   Menurut Tasya, pola didik sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak di kemudian hari. Melalui akun Instagramnya @tasyakamila, dia sering membagikan tips tentang pola pengasuhan anak. Perempuan pemilik zodiak Scorpio itu pun tak segan berbagi informasi bagaimana cara merawat serta mengasuh Arrasya. 

    Salah satunya dalam hal pemenuhan gizi dan nutrisi yang cukup untuk anak. Sejak mendapatkan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), Arrasya selalu nampak lahap makan. Hal ini dikarenakan Tasya selalu melakukan aturan makan untuk Arrasya. Misalnya makan harus duduk. 

    Selain itu, Tasya juga benar-benar memperhatikan asupan gizi sang anak. Menurutnya, nutrisi yang cukup akan sangat membantu kemampuan berpikir sang anak sekaligus menjaga imunitasnya. Tentu saja, makanan tersebut harus makanan yang sehat dengan gizi seimbang.

    Tasya selalu memberikan kesempatan kepada anaknya untuk belajar sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk melatih sang anak agar bisa menggali dan menemukan minat, bakat, dan potensinya sendiri untuk perkembangan kognitif Arrasya. "Saya mempelajari hal-hal baru dalam mendidik Arrasya supaya bisa tumbuh dan berkembang secara optimal," kata perempuan kelahiran 22 November 1992 itu.

   Tasya pun sering mengajak sang anak untuk melakukan hal-hal baru. Berenang misalnya. Hal ini dimaksudkan agar sang anak memiliki banyak kenangan dan pengalaman di masa kecilnya. Selain itu, juga bisa menumbuhkan serta memupuk rasa percaya diri pada anak untuk melakukan suatu hal baru.

    Walaupun terdengar sepele, bermain bersama anak dapat menumbuhkan bonding atau ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Selain itu, interaksi yang terjadi ketika bermain dengan anak akan memperkaya kosa kata sang anak. Tasya Kamila juga selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan anak di tengah-tengah kesibukannya. Dia juga membatasi screen time atau penggunaan gadget pada anaknya.

    Dalam masa-masa golden age anak, para orang tua diharapkan mampu untuk melatih semua aspek dalam diri sang anak, seperti melatih dan menstimulasi motorik. Tasya sering kali mengajak sang anak bermain basket. Hal ini bertujuan untuk mengasah motorik kasar sang anak.

   Fakta menariknya, Arrasya berhasil mencuri perhatian publik dengan hobinya yang suka mengoleksi kipas angin. Dia yang baru berusia 3 tahun bisa mengetahui jenis-jenis kipas dan cara menyalakannya. Tidak hanya kegemarannya terhadap kipas angin, kebiasaan Arrasya yang jauh dari gadget membuat banyak orang menjadi kagum dengan pola asuh Tasya. 

     Ilmu parenting atau pola dalam mengasuh anak memang sangat penting untuk dipelajari para orang tua. Baik sebelum atau setelah menjadi orang tua. Hal ini berguna untuk menunjang tumbuh kembang serta pembentukan karakter pada diri sang anak.

Nasib Asto Jiwo di Tangan Pemuda Ujungpangkah   

Musoh Siji Abot Konco Sewu Kurang (Musuh Satu Berat Teman Seribu Kurang). Asto Jiwo merupakan perguruan pencak silat tertua di Ujungpangkah. Para anggota yang mulai termakan usia dan munculnya perguruan baru tampak menjadi tantangan yang tidak mudah. Perguruan baru seolah konflik baru. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan nama Asto Jiwo. 

Penggila dunia seni bela diri pencak silat tentunya tak asing dengan nama perguruan Asto Jiwo. Satuan seni pencak silat beraliran Pagar Nusa ini telah lama dikenal oleh masyarakat Ujungpangkah. Ujungpangkah sendiri merupakan sebuah desa yang terletak di deretan pantai utara Kota Gresik, Jawa Timur. Bertempat di wilayah Gresik kota santri, kecamatan satu ini cukup kental dengan pelestarian seni pencak silatnya.  

Asto Jiwo diambil dari kata asta, yang bermakna tangan dan jiwa, yang berarti bagian rohani seorang manusia. Sehingga jika digabung memiliki makna tangan yang berjiwa. Ditulis menggunakan huruf vokal o daripada a karena pengucapan masyarakat Ujungpangkah yang sangat melekat dengan aksen bahasa Jawa.  

Berdiri sejak tahun 1969, Asto Jiwo telah lama menjadi pertunjukan yang menghibur bagi masyarakat di sini. Seringnya, warga melibatkan pertunjukan ini ketika sedang memiliki hajat seperti perayaan pernikahan, khitan, atau sekedar syukuran. Namun, penampilan Asto Jiwo pun biasanya berlangsung di acara-acara besar yang diselenggarakan oleh seluruh masyarakat Ujungpangkah. Beberapa di antaranya adalah ketika perayaan malam kemerdekaan Indonesia, karnaval perayaan 17 Agustus, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan pesta rakyat yang diadakan oleh kepala desa tiap lima tahun sekali. 

Yang membuat unik perguruan ini adalah adanya atraksi yang disebut "kontak macan". Atraksi tersebut oleh masyarakat Ujungpangkah dipercaya merupakan adegan dimana beberapa pemain pentas, melalui bacaan dan metode tertentu akan dimasuki oleh roh makhluk halus. Dalam peragaannya, para pemain menggunakan kostum yang beragam. Mulai dari macan biasa, macan putih, monyet, gendruwo, juga beberapa memakai baju merah bergaris putih dan menggunakan kuda lumping.  

“Yang dirasakan setelah dikontak itu capek dan beberapa bagian tubuh rasanya sakit”, ucap Huda, pemain macan putih.  

Biasanya, pementasan pencak silat dilakukan di malam hari mulai pukul 21.00 WIB hingga tengah malam. 

“Durasi pementasan paling lama sekitar lima jam. Itu dimulai dari penampilan perorangan atau perwakilan perguruan, dilanjutkan dengan penampilan ganda atau berpasangan. Kemudian ditutup dengan adegan kontak macan”, papar Hasib, pembawa acara kondang yang juga anggota dari Asto Jiwo. 

Pria berusia 47 tahun tersebut telah bergabung sejak Asto Jiwo masih merintis nama. Menjadi MC di setiap pementasan perguruan kesayangannya, Hasib selalu sukses menyemarakkan suasana. Keterlibatannya di dalam Asto Jiwo tak sekedar mendalami seni bela diri. Anggota tua Asto Jiwo ini juga terampil dalam menabuh kendang.  

Pada pameran aksinya, selalu dibalut dengan lantunan selawat yang diiringi alat musik kendang. Atraksi "kontak" sendiri merupakan bagian menegangkan yang paling ditunggu-tunggu dan biasanya menjadi adegan pamungkas dari acara tersebut. 

Sebagai anggota, Hasib pernah mengundang perguruan Asto Jiwo untuk ikut memeriahkan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kampungnya. Para warga RT 2 RW 3 dan banyak pemuda dari dusun sebelah ikut berantusias dan berbondong-bondong menyaksikan acara tersebut. Bukan hanya menonton, warga turut melantunkan selawat yang membuat suasana menjadi ramai penuh suka cita. 

Menurut Hasib, sebagai anggota, terdapat keuntungan sendiri dalam menyewa Asto Jiwo. Ia hanya perlu membayar senilai lima ratus ribu rupiah untuk soundsystem. Sedangkan atraksi sendiri tidak dikenai biaya, hanya memberikan uang kas ke pihak Asto Jiwo. 

“Kalau bukan anggota, tarif untuk satu kali pertunjukan dan biaya soundsystem itu sekitar satu juta lima ratus”, kata Hasib. 

Diketahui, seluruh uang hasil pertunjukan akan disimpan sebagai uang kas Asto Jiwo  

Seperti halnya perguruan pencak silat yang ada, Asto Jiwo memiliki banyak kegiatan rutin. Salah satunya adalah latihan tiap Kamis malam Jumat. Biasanya, para anggota berkumpul di musala kecil yang berada di Kampung Sitarda, Dusun Pangkah Kulon. Agendanya berupa latihan sambil selawat.  

Tak hanya menitikberatkan para anggota untuk menguasai ilmu bela diri, Asto Jiwo justru menekankan kepada kemampuan untuk memainkan alat musik pukul, yang disebut kendang. Dalam tujuannya untuk melestarikan budaya nenek luhur, mereka tak hanya ingin para pemuda pandai dalam bela diri saja, melainkan memiliki rasa cinta terhadap alat musik kuno tersebut.  

Perguruan pencak silat tertua di Ujungpangkah ini didirikan oleh alm. Qodim, yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Asto Jiwo. Anggotanya didominasi oleh mereka yang berusia 45 hingga 70 tahun. Dalam kepemimpinannya, Asto Jiwo banyak mengambil perhatian masyarakat Ujungpangkah yang tak hanya melalui kehebatan seni bela diri saja, melainkan karya berupa lagulagu religius yang dibawakan tiap pentas.  

Sebagai pemimpin, Qodim mengajarkan kepada para anggota untuk mencintai dan melestarikan selawat. Kebanyakan dari selawatnya merupakan karya sendiri yang ditulis menggunakan lirik bahasa Jawa. Usahanya terbilang cukup berhasil karena pada saat itu masyarakat Ujungpangkah dari muda ke tua hafal lagu-lagunya. 

Berakhirnya masa kepemimpinan Qodim, Asto Jiwo diambil alih oleh sang anak, yaitu Bukhori. Bergantinya pemimpin tak membuat surut semangat organisasi yang didominasi oleh para laki-laki berusia lanjut itu. Dalam naungannya, Bukhori mampu membawa banyak anggota muda. Mulai dari anak SMP hingga mereka yang sudah lulus SMA ikut dan tertarik menjadi anggota Asto Jiwo. 

Salah satu perguruan pencak silat yang cukup menjadi rival Asto Jiwo adalah Nusa Pangkah. Meski dulunya didirikan oleh Asto Jiwo, tetapi siapa sangka kini Nusa Pangkah berubah menjadi lawan. Perguruan tempat para pemuda yang tertarik untuk mendalami seni silat ini diketahui memiliki anggota yang lebih banyak daripada Asto Jiwo.  

Konflik pun mulai bermunculan sejalan dengan berdirinya perguruan ini.  Banyak anggota muda yang dulunya sangat setia kepada Asto Jiwo mulai bergoyah. Tak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan keluar dari perguruan lalu bergabung dengan Nusa Pangkah. Di luar dugaan, sang pemimpin dengan alasan yang tak pernah diketahui, pada akhirnya ikut berkhianat. 

Tidak sebatas itu, Bukhori pun berulang kali mengajak anggota tua Asto Jiwo untuk bergabung dengan Nusa Pangkah. Hasib merupakan salah satunya. “Dia sudah sering mengajak saya untuk berhenti, dan ikut menjadi anggota Nusa Pangkah. Namun, dengan prinsip dan juga pesan dari beberapa sesepuh, saya menolaknya”, ujar Hasib.  

Kepopuleran Asto Jiwo mulai menurun dikarenakan performa para anggotanya yang sudah termakan usia. Saat itu, Nusa Pangkah menjadi perguruan dengan jumlah peminat yang jauh lebih banyak. Tak sampai di situ, memiliki anggota muda dengan semangat yang luar biasa, Nusa Pangkah kini lebih menarik penonton. 

Sejak saat itu, para anggota tua di Asto Jiwo pun memutuskan untuk memberi kesempatan kepada anggota mudanya dalam mengembangkan dan mengangkat kembali perguruan tercinta mereka. Hasib merupakan satu dari mereka yang mendukung keputusan tersebut. Ia tak pernah lepas dalam mendorong tekad untuk menghidupkan kembali Asto jiwo.  

“Motivasi kami adalah menjalin ukhuwah dan juga menghijaukan terus seni budaya bangsa apalagi kami orang Jawa, terutama dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)”, tutur Hasib. 

Dengan semangat para anggota muda yang tersisa, Asto Jiwo seolah lahir kembali. Berakhirnya Pandemi Covid-19 nampaknya menjadi momentum bangkitnya kembali Asto Jiwo di mata masyarakat. Banyaknya kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat, menjadi peluang besar bagi pecinta Asto Jiwo.  Pasalnya, di tangan para pemuda, perguruan satu ini berhasil merebut perhatian dan ketertarikan masyarakat kembali. Tak hanya bertambahnya anggota, banyak atraksi dan lagu sholawat baru pun mulai dikembangkan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Inang, Film Horor Pertama Sutradara Fajar Nugros Sengaja Mengangkat Mitos Jawa

 

Inang, Film Horor Pertama Sutradara Fajar Nugros

Sengaja Mengangkat Mitos Jawa

 

 

Di bulan Oktober lalu kita dimanjakan dengan berbagai film horor untuk merayakan Halloween month. Kurang pas rasanya kalau kita tidak membahas film-film horor lokal yang akhir-akhir ini sangat digemari. Satu di antaranya Inang film horor yang dibuat tahun 2021 dari rumah produksi IDN Pictures dan disutradarai oleh Fajar Nugros.

----

 

Judul dari film Inang sendiri berasal dari kata “induk” di mana film ini menceritakan tentang perjuangan seorang ibu hamil untuk menyelamatkan anak yang dikandungnya.


 

 

 

Film Inang  sendiri tayang serentak di bioskop Indonesia pada tanggal 13 Oktober 2022 dan juga menjadi film horor-thriller indonesia pertama yang tayang di Festival Film Fantasi International Bucheon (Bifan) di Korea Selatan pada tanggal 7 Juli 2022 lalu.

 

Beberapa aktor senior dan terkenal menjadi pemain dalam film Inang ini. Di antaranya ada Naysilla Mirdad, Lydia Kandou, Dimas Anggara, Rukman Rosadi, Pritt Timothy, hingga Totos Rasiti. Film Inang  ini juga menjadi debut film horor dari Naysila Mirdad yang sering riwa-riwi di dunia persinetronan Indonesia dan juga film pertama dimana anak dan ibu (Naysila Mirdad dan Lydia Kandou) beradu peran dalam frame yang sama.

 

Film ini bukan tipikal film yang serem karena banyak hantunya atau jumpscare, tetapi lebih menjuru ke genre horor dengan tambahan thriller yang cukup membuat ngeri. Di sepanjang film Inang kita tidak akan menemukan sosok-sosok hantu yang menyeramkan, tetapi kita akan diajak ke dalam cerita yang mungkin akan related dalam kehidupan.

 

Sang sutradara Fajar Nugros mengungkapkan bahwa film Inang ini menitikberatkan pengorbanan orang tua untuk anaknya. “Kadang-kadang kita nggak pernah tau orang tua kita melakukan pengorbanan apa sih? dan Gue berharap setelah menonton film ini, kita akan berpikir orang tua gue udah ngelakuin apa ya buat gue?” kata Fajar dalam interview di Youtube HAHAHA TV. Minggu (13/11)

 

Awal mula munculnya ide dalam film ini adalah berdasarkan pengalaman Fajar yang simpatik melihat perempuan hamil yang bersusah payah sendirian dalam perjalan KRL Commuter Line perjalanan Tangerang ke Jakarta. Dari itu munculkah pertanyaan bagaimana kota besar memperlakukan perempuan? apakah sudah ramah atau sebaliknya?


Selain mengambil cerita tentang pengorbanan orang tua untuk anaknya, sisi menarik dari film Inang adalah mengangkat kepercayaan orang jawa yaitu tentang Rebo Wekasan. Merupakan hari rabu terakhir dibulan safar dalam kalender islam atau bisa disebut hari petaka. Mitos ini menjelaskan barangsiapa yang lahir di bulan Rabu Wekasan harus diruwat agar terhindar dari malapetaka. 

“Saya selalu dekat dengan banyak selamatan. Dikit-dikit selamatan. Itu menempel hingga saya besar. Ketika melihat mbak-mbak itu saya berpikir, kita yang nggak lahir di bulan yang sial aja kita selamatan supaya selamat, bagaimana dengan mereka yang lahir di hari itu” Ungkap Fajar dalam Konferensi Pers di Jakarta yang dikutip di artikel mediaindonesia.com Minggu (13/11) 

Film Inang mengisahkan seorang karyawan swalayan bernama Wulan yang diperankan oleh Naysila Mirdad yang dihamili pacarnya dan tidak mendapatkan pertanggungjawaban. Wulan yang tidak mau melakukan aborsi akhirnya mencari solusi via online untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya.

 

 

 Akhirnya dia bertemu dengan keluarga Santoso ( Rukman Rosadi dan Lydia Kandou) yang mau mengambil hak asuh atas anaknya Wulan nanti setelah lahir. Wulan menjalankan sisa-sisa hari sebelum kelahiran di rumah keluarga santoso. Dari situ lah Wulan merasakan hal yang aneh dan mistis selama tinggal bersama keluarga Santoso. 

Di dalam film kita akan melihat dan merasakan budaya jawa yang kental mulai dari interior rumah keluarga santoso, ritual-ritual yang mistis, dan juga dialog-dialog bahasa jawa yang khas.

`        

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai film horor pertama seorang  sutradara yang  sering membuat film komedi, tantangan terbesar yang  dirasakan oleh Fajar Nugros yaitu tidak bisa merancang film horor yang mengerikan.

 “Gue nggak cocok bikin film horor karena gue penakut. Dikit-dikit nangis, Dikit-dikit tersentuh dan nggak tega” ujarnya di Youtube HAHAHA TV.

 

Tetapi di film Inang  ini membuktikan bahwa Fajar Nugros yang juga menyutradarai film Yowes Ben bisa membuat hal yang baru keluar dari zona nyamannya yang  biasanya membuat film genre drama atau komedi.

Pada awal film ini tidak akan digarap oleh Fajar, tetapi karena beberapa hal dan juga kemepetan waktu, akhirnya film ini berhasil diselesaikan dan menjadikan film horor pertamanya selama 1 dekade dalam dunia perfilman.

Selama penayangannya hingga 30 Oktober film Inang telah ditonton lebih dari 800 ribu penonton. Dalam kunjungannya di redaksi Jawa Pos Surabaya, Fajar Nugros mengungkapkan kemungkinan adanya sekuel Inang jika tembus 1 juta penonton.

Kita nantikan saja kabar baik dari kemungkinkan film Inang selanjutnya dan juga film-film menarik lainya dari sutradara Fajar Nugros.

 

Sehat-Sehat Terus Ya Bund!!

(Jargon film Inang)